Dampak COVID-19 Terhadap Pertumbuhan Perekonomian Mesir.

Menurut data Kemiskinan makro terbaru Bank Dunia, pertumbuhan Mesir dalam tahun anggaran 2018-2019 meningkat menjadi 5,6%, artinya naik dari 5,3% tahun sebelumnya, tingkat yang dipertahankan hingga kuartal pertama tahun anggaran 2019-2020.

Pertumbuhan didorong oleh program stabilisasi ekonomi makro yang sebagian besar berhasil, menghasilkan surplus anggaran primer yang solid, mengurangi rasio hutang terhadap PDB (Produk Domestic Bruto), dan mengisi kembali cadangan. Selain itu, sektor grosir, perdagangan ritel, pertanian, dan manufaktur berkontribusi pada peningkatan pertumbuhan.

Kerentanan tetap ada, termasuk kinerja yang kurang baik dalam ekspor dan investasi asing yang dapat diperburuk oleh dampak pandemi COVID-19. Situasi ini menggarisbawahi urgensi penyelesaian tantangan struktural untuk melindungi pemulihan yang berkelanjutan yang harus fokus pada cara mengatasi kendala lingkungan bisnis, serta meningkatkan mobilisasi pendapatan untuk menciptakan ruang fiskal yang diperlukan agar berinvestasi lebih banyak terhadap manusia.

COVID-19 diperkirakan akan merusak pertumbuhan perekonomian.

Terlepas dari pemulihan bertahap yang diharapkan dari berbagai konsumsi dan investasi swasta, pandemi ini diperkirakan akan menghambat pertumbuhan melalui pengaruhnya terhadap produksi dan ekspor.

Sektor-sektor utama, seperti pariwisata dan gas alam, diperkirakan akan mengalami keterlambatan karena terbatasnya perjalanan internasional dan jatuhnya harga minyak. Respon kebijakan sudah diberlakukan, termasuk penurunan suku bunga kebijakan moneter 300 berbasis poin, langkah-langkah kesabaran atas kredit, dan sinyal stimulus fiskal dalam anggaran, tahun anggaran 2020-2021.

Dalam kasus gangguan yang berkepanjangan, dampak dari COVID-19 diharapkan dapat memberi pengaruh pada ketersediaan produk akhir dan mengarah pada gelombang inflasi baru, sehingga menantang pemulihan ekonomi mikro dan makro pada tingkat rumah tangga. Daya beli yang absolut, resiko pandemic ini menempatkan tekanan pada sistem perawatan kesehatan negara di samping implikasi penting lainnya pada ekonomi melalui beberapa saluran.

Defisit perdagangan dapat memburuk dengan gangguan perdagangan global, karena perjalanan dibatasi dan rantai pasokan terganggu. Sektor-sektor yang lebih berorientasi ekspor, dengan konsentrasi besar di negara-negara Eropa dan dewan kerja sama teluk atau negara-negara GCC (Gulf Cooperation Council), akan menjadi yang paling terpengaruh.

Selanjutnya, penurunan tajam dalam harga minyak, ditambah dengan adanya pembatasan baru-baru ini pada perjalanan ke negara-negara GCC, dapat berdampak buruk pada pengiriman uang. Surplus neraca modal dan finansial dapat menurun dengan meningkatnya arus yang keluar dari perbendaharaan Mesir di tengah-tengah pasar keuangan global yang bergejolak.

Penulis : Muhammad Fajrul Falah Afandi (Bendahara MES PWK Mesir)

Sumber : World Bank Egypt.

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.