Asal-usul dan Sejarah Jual Beli Murabahah dalam Fikih Islam

Sebagaimana diketahui oleh umat muslim bahwa fikih dan ushul fikih merupakan bagian terpenting dari risalah Nabi Muhammad SAW, bukankah begitu?.
Beliau adalah cermin yang nampak padanya segala aspek kehidupan manusia baik suka maupun duka, dan beliau merupakan tolak ukur tabiat manusia. Oleh karenanya, segala permasalahan yang dibebankan kepada mukalaf berdasarkan kaidah-kaidah fikih dan ushul fikih merupakan saksi konkret atas intensitas kepatuhan terhadap hukum Allah SWT dikalangan umat islam, dan atas apa yang mencakupnya dari aktivitas intelektual yang berkaitan dengan fakta.

Jual beli murabahah sama halnya dengan transaksi muamalah lainnya. Dibutuhkan pemikiran, pertimbangan, dan penelitian yang berkelanjutan, sebagaimana yang telah dipahami oleh ulama-ulama terdahulu dari para mujtahid dan imam mazhab fikih. Oleh karena itu, perbedaan pandangan mereka dalam jual beli murabahah didasari oleh pemahaman, interpretasi bukti, dan kaidah berbasis syariah, bukan didasari oleh pendapat yang berlandaskan nafsu atau kefanatikan terhadap suatu pandangan tertentu yang diliputi keraguan. Seperti halnya perbedaan pendapat para pembaharu zaman sekarang dalam hal fikih Islam.

Ulama-ulama Fikih Terdahulu dan Jual Beli Murabahah

Berdasarkan sumber kitab-kitab fikih yang ada, diketahui bahwa para ulama terdahulu (sesuai pandangan madzhabnya masing-masing) dalam mendefinisikan murabahah, mereka terus menerus melakukan riset dan analisis, serta menjelaskan hukum syariahnya.
Berikut ini adalah beberapa kutipan yang memperkuat pandangan para ulama tersebut:
Pertama kami ingin tegaskan bahwa penyebutan kutipan-kutipan itu bukan bertujuan untuk menguji nash-nash yang membahas jual beli murabahah, melainkan bertujuan untuk menunjukkan bahwa jual beli murabahah adalah transaksi yang sudah berjalan sejak lama, dan telah disebarluaskan oleh para ulama terdahulu, dan mereka telah menjelaskan hukum syar’i dari jual beli murabahah itu sendiri.

Menurut Pandangan Imam Hanafi;

Pengarang kitab Al-hidayah berkata: Murabahah adalah pemindahan status kepemilikan seseorang dengan akad pertama dan harga pokok pertama ditambah dengan keuntungan.
Sedangkan Tauliah adalah memindahkan suatu kepemilikan dengan akad pertama dan harga pokok, tanpa ditambahi keuntungan. Dan hukum kedua jenis jual beli ini diperbolehkan; dikarenakan terpenuhinya syarat-syarat jual beli, dan adanya kebutuhan mendesak terhadap jual beli ini; karena orang yang tidak tahu cara bertransaksi membutuhkan orang yang faham dalam bertransaksi untuk bisa diikuti, dan kebaikan bagi dirinya dengan mengikuti transaksinya orang yang faham meskipun dengan adanya tambahan keuntungan.
Dari pendapat tersebut, kedua jenis jual beli ini hukumnya diperbolehkan, karena jual beli ini didasari atas dasar amanah dan bertujuan untuk menghindari dari tindakan penipuan atau sejenisnya.

Diterjemahkan dari kitab Mausu’ah Fatawa Al-mu’amalat Al-maliyah li Al-mashorif wa Al-muassasat Al-Maliyah Al-islamiyah, jilid pertama Almurabahah, Markaz Al-dirasat Al-fikhiyah wa Al-iqtishadiyah di bawah naungan Mufti Mesir Dr. Ali Jumah.

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.