Mengapa Perlu Ekonomi Syariah

Oleh: Nur Fuad Shofiullah, Lc. MM.

Ekonomi dunia telah beberapa kali mengalami guncangan hebat karena perilaku spekulatif. Amerika Serikat pernah mengalami great depression yang berlangsung satu dekade (1929-1939). Peristiwa ini terjadi karena ulah para spekulan yang menyebabkan terjadinya penjualan saham besar-besaran yang mengakibatkan indeks saham anjlok.Pasca jatuhnya pasar saham, daya beli menurun, investasi menyusut, sektor industri goyah, serta terjadi rush money (aksi penarikan simpanan secara besar-besaran oleh masyarakat akibat kehilangan kepercayaannya terhadap perbankan) yang menyebabkan setengah dari lembaga-lembaga perbankan di Amerika Serikat dinyatakan bangkrut dan tutup.

Tahun 2008, Amerika kembali mengalami krisis akibat Subprime mortgage (kredit perumahan yang diberikan kepada debitor dengan sejarah kredit yang buruk atau belum memiliki sejarah kredit sama sekali, sehingga digolongkan sebagai kredit yang berisiko tinggi). Krisis ini menjadi lebih besar karena subprime mortgage tersebut kemudian diolah menjadi berbagai bentuk sekuritas turunan yang diperdagangkan di pasar global. Sehingga ketika para debitor perumahan mengalami gagal bayar, seluruh sekuritas turunan yang diperjualbelikan pun ikut hancur nilainya. Dampak kasus ini, pada awal 2009 US Treasury mengumumkan paket penyelamatan bank senilai USD 1,5 triliun, terbesar dalam sejarah keuangan AS.

Krisis keuangan sebagaimana kita ketahui juga pernah menghantam Asia pada tahun 1997-1998, saat sejumlah negara Asia (termasuk Indonesia) memiliki utang (pemerintah dan swasta) yang jatuh tempo dalam jumlah yang cukup besar, sementara pada saat yang sama nilai mata uang lokal jatuh terhadap USD karena ulah spekulan sehingga menyebabkan sejumlah negara gagal bayar utang. Di Indonesia, krisis tersebut menyebabkan nilai tukar rupiah terhadap USD hancur hingga sempat mencapai Rp 17.000. kondisi tersebut diperparah dengan praktik perbankan yang buruk dan banyak terjadi kredit macet, sehingga kepercayaan masyarakat terhadap bank hancur dan terjadi penarikan dana besar-besaran oleh masyarakat dan kemudian Indonesia terpaksa menjadi pasien IMF.

Contoh-contoh krisis di atas menggambarkan bahwa perekonomian dunia saat ini dibangun di atas pondasi keuangan yang bertumpu pada prinsip utang yang berbunga dan spekulasi yang berbasis ketidakpastian (gharar). Utang kemudian melahirkan instrumen turunan atas dasar janji keuntungan yang dimanfaatkan oleh para spekulan untuk meraup keuntungan baru dari optimisme pasar. Sehingga ketika utang pokok gagal bayar, maka instrumen turunan akan mengalami efek domino.

Ekonomi Syariah dalam hal ini menawarkan perspektif dan aturan main yang berbeda. Islam memandang uang hanyalah sebagai alat tukar, bukan barang dagangan (komoditas). Dalam pandangan Islam, uang harus selalu berputar dalam kegiatan perekonomian yang nyata dan menghasilkan produk yang dapat memberikan nilai manfaat. Sehingga Islam mengharamkan riba. Hal itu antara lain dengan harapan bahwa perputaran sektor keuangan dapat berbanding lurus dengan perputaran sektor riil, dan tidak menciptakan pertumbuhan ekonomi semu (bubble economy), dimana fenomena bubble economy sendiri dipicu oleh semangat ekonomi konvensional yang selalu “rakus” dengan keuntungan tanpa memperhatikan dampak negatif yang mengganggu stabilitas ekonomi akibat rendahnya kegiatan pada sektor riil dibanding dengan sektor moneter dan keuangan.

Rudnyckyj (2018) menjelaskan bahwa keuangan Islam dimulai dari prinsip ekuitas (modal yang dimiliki).  Dalam dunia perbankan, logika tindakan berbasis ekuitas adalah “pembagian risiko” bukan “transfer risiko”. Bank syariah misalnya, berperan sebagai mitra investasi bersama pada perusahaan, rumah dan proyek lain yang didanai. Demikian pula, deposan bank memiliki bagian dalam keuntungan dan kerugian bank. Berbeda dengan bank konvensional yang hanya mendanai proyek dengan imbalan bunga, dimana jika terjadi kegagalan dalam pendanaan, maka peminjam menanggung seluruh resiko yang kemudian malah sering menyebabkan terjadinya gagal bayar dengan efek domino yang menyertainya. Ekonomi syariah menurut Rudnyckyj, dimulai dari prinsip pertumbuhan yang lebih lambat namun lebih berkelanjutan.

Lebih lanjut, sistem ekonomi syariah adalah sistem ekonomi pasar yang etis dan berkeadilan. terdapat etika yang harus ditegakkan oleh para pelaku pasar; yaitu adil dalam takaran dan timbangan, jujur dan transparan dalam bertransaksi, tidak melakukan jual beli  najasy (rekayasa pasar  melalui permintaan palsu, sehingga seolah-olah ada banyak permintaan terhadap harga produk yang menyebabkan harga jual produk naik), tidak melakukan talaqqi rukban (mencegat penjual di luar pasar dan membeli produknya dengan harga dibawah pasar), tidak menjual barang yang belum sempurna dimiliki, tidak melakukan ihtikar (penimbunan barang), tidak melakukan transaksi ribawi, perjudian (maisir),dan spekulasi (gharar).

Jika prinsip-prinsip ekonomi syariah di atas diterapkan dengan benar, semestinya krisis-krisis ekonomi sebagaimana telah berulang beberapa kali tersebut tidak perlu terjadi. Memang, ekonomi syariah tidak menawarkan keuntungan yang besar (hasil spekulasi), namun ekonomi syariah menawarkan kondisi yang lebih pasti, sehingga kegiatan ekonomi dapat terus berjalan dan hasilnya dapat dinikmati lebih banyak kalangan.

Melihat potensi peran signifikan ekonomi syariah dalam menjaga keseimbangan ekonomi, upaya diseminasi informasi terkait praktik ekonomi syariah tentu saja perlu untuk digalakkan agar dapat menjangkau khalayak yang lebih luas dan mendatangkan manfaat yang lebih besar.

Nur Fuad Shofiyullah, Lc. MM.

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.